Cerita seseorang harian paruh waktu baru saja dipecat dari pekerjaannya. Dia nampak linglung serta bersedih sejauh langkah kaki keluar gedung. Dia juga merasa tidak mampu buat memandang pasang mata siapa juga, sebab tidak mau membuka obrolan lagi.

Jam 6 sore hari, laki- laki itu tiba ke suatu halaman bermain yang katanya“ terkutuk” yang dibentuk baru sebagian bulan kemudian. Banyak yang bilang halaman ini memohon tumbal serta sebagainya. Sebab alibi serta rumor seperti itu, halaman ini sangat hening dari wisatawan—kecuali buat mereka yang tidak yakin pada takhayul. Laki- laki itu duduk di bangku halaman serta mendengar sms masuk, kayaknya kabar kematian yang dikirimkan secara universal. Tetapi dia menghiraukannya. Laki- laki itu menghirup hawa, memandang ke seberang dengan jengkel. Terdapat 2 anak kecil bermain ayunan di situ. Cuma keduanya lah, anak kecil di halaman ini.

Besok harinya, laki- laki itu kembali ke halaman. Kali ini halaman lebih hening dari kemarin yang telah sangat hening. Laki- laki itu tiba kemari sehabis bolak- balik melamar pekerjaan, serta dia merasa jengkel sebab merasa diabaikan. Tetapi tidak terdapat 2 anak kemarin di seberang ayunan. Seperti itu anggapannya hingga jam 6, dikala 2 anak itu kembali ke halaman serta bermain dengan posisi semula. Anak pirang yang mengayunkan sang anak pemegang boneka yang duduk di ayunan dengan gembiranya. Dalam hatinya laki- laki bertanya, ke mana kedua orangtua anak ini kira- kira.

Hari ketiga. Seorang menelepon buat memintai bantuannya. Sebab diimingi bayaran, hingga sang laki- laki sepakat. Dia tiba ke suatu kantor kecil tempat pengawasan halaman yang 2 hari ini senantiasa dikunjunginya. Dia masuk ke ruang pengawas Kamera pengaman tempat temannya bekerja. Baru saja dia masuk ke dalam, tanpa basa- basi temannya itu meninggalkannya.

Cuma dengan mengatakan“ Pekerjaan ini telah membosankan. Saya harap dapat lekas berangkat dari mari.”

Temannya umumnya sangat pendiam serta cuek buat diajak bicara. Jadi sang laki- laki memutuskan buat jadi pengawas Kamera pengaman walaupun dia tidak sangat paham tentang tombol- tombol di layar pc serta yang lain. Setelah itu, tanpa terencana dia melaksanakan suatu yang membuka rekaman Kamera pengaman 2 hari kemudian. Pas di tiang yang mengawasi ayunan serta bangku di seberangnya. 2 hari kemudian, jam 6 sore, tetapi cuma terdapat satu anak di rekaman. Ialah anak pirang si pengayun.

Sang laki- laki terbelalak ngeri. Tetapi dia tidak dapat mengatakan apa- apa lagi, begitu dia menyadari tidak terdapat seseorang juga yang duduk di bangku di seberangnya. Di mana sepatutnya, 2 hari kemudian di jam yang sama, dia duduk di situ, memperoleh sms serta dia buru buru membuka pesan yang masuk 2 hari kemudian. Tentang kabar kematian yang pernah dihiraukannya.

Bocah pemegang boneka tidak lagi tiba buat menemani sang pirang. Jadi mulai jam 6 ini, giliran sang laki- laki yang duduk di ayunan.