Aura Rumah Kosong dekat jalur mengarah kos tempatku tinggal saat ini memanglah terasa agak berbeda. Atmosfer jalanya begitu hening, tanpa terdapat kemudian lalang kendaraan ataupun orang, serta di pinggir jalur berkembang pohon- pohon besar, yang menaikkan aura mistis begitu kental terasa. Terlebih saat ini telah nyaris jam 2 belas malam, wajib kulewati jalur itu seseorang diri, sebab terdapat tugas kuliah yang wajib saya selesaikan malam itu pula di kampus tadi, saya wajib menyusuri jalur ini di malam hari. Ini awal kalinya saya melewati jalur itu malam hari, tidak sempat kusangka hendak semacam ini rasanya. Terus jalur, memandang ke depan tanpa menoleh- noleh seperti itu yang saya jalani demi kurangi rasa khawatir yang mulai saya rasakan, tetapi, seketika terdengar.

“ Ayu… Ayu…” Seketika terdengar suara lirih memanggilku dari arah balik, rasa takutku seakan menyebar ke segala badan.

“ Siapa itu” Kataku sembari menoleh ke balik, yang teryata tidak terdapat siapa siapa, fikiranku mulai melayang ke mana- mana tanpa otakku dapat mengontrolnya, tetapi saya coba buat berlagak tenang sembari meneruskan jalanku semacam tidak terjalin apa- apa, walaupun rasanya terdapat yang lagi mengawasiku dari balik.

Tidak terasa teryata saya telah terletak di depan suatu rumah kosong yang lumayan besar, cat putih serta banyak sarang laba- laba di zona depan rumah, ditambah lampu yang hidup, mati, hidup, mati, langsung membuat bulu kudukku berdiri seluruh. Bagi berita burung yang saya dengar, dahulu terdapat seseorang anak wanita menewaskan bapak serta ibunya sendiri waktu tidur, dengan metode menusuknya memakai pisau dapur berulang kali, serta anak itu menggantung dirinya sendiri di depan mayat bapak serta ibunya itu, sehabis melaksanakan seluruh itu.

“ Ayu, tolong” saat ini suara itu terdengar di dalam rumah angker itu, mendadak itu pula tanganku mulai gemetaran tidak terkontrol. Saya berupaya mengabaikan kembali suara- suara itu serta terus saja berjalan.

“ Toloong saya” Suara itu terdengar lirih, kembali tertangkap ke 2 gendang telingaku, seakan memendam rasa sakit yang begitu mendalam.

Lari mendadak, seperti itu yang tubuhku kehendaki sehabis sebagian kali terdengar suara- suara aneh dari balik serta rumah itu. Aauu!!!,“ sial” kataku, sebab lari terburu- buru saya tersandung suatu yang membuatku jatuh tersungkur itu, mataku mulai mencari- cari apa yang hingga membuatku jatuh itu, kesimpulannya yang kutemukan merupakan suatu boneka beruang yang telah nampak lusuh, serta kepalanya telah terlepas dari badannya itu yang membuatku terjatuh. Takutku terus menjadi jadi jadi, memandang apa yang membuatku terjatuh itu, tanpa fikir panjang langsung saya tinggalkan boneka itu serta terus berlari menju kos yang mulai nampak.

Sesampainya di kos, hatiku masih berdetak begitu kencang, keringat- keringat masih mengucur deras dari segala badanku, saya tenangkan diriku sejenak, sembari minum teh hangat serta mengambil napas panjang kemudian mengeluarkanya saya jalani berulang kali, hatiku mulai tenang. Kesimpulannya saya putuskan mensterilkan badanku dahulu saat sebelum tidur, berakhir mandi saya duduk di kursi sembari memikirkan peristiwa yang barusan terjalin yang masih membuat bulu kudukku berdiri seluruh itu. Tidak begitu lama rasa takutku berganti jadi rasa kantuk yang telah tidak dapat saya tahan lagi. Kesimpulannya saya baringkan badanku di ranjang tidur serta mulai saya pejamkan kedua mataku.

Tokk… Tokk…, seketika terdengar suara aneh itu membangunkanku dari lelapnya tidurku malam itu.“ Tokk… Tokk…”, suara itu kembali terdengar serta asalnya teryata terdapat di luar kamarku, kesimpulannya saya putuskan buat mengecek sumber suara itu, pintu kamar mulai saya buka lama- lama, mataku mulai mencari- cari asal suara itu dari sela pintu yang saya buka sedikit itu.

“ Tokk… Tokk…” kembali terdengar suara itu, yang kesimpulannya saya tau asal suara itu berasal dari arah dapur. Saya berjalan ke arah dapur, satu langkah, 2 langkah, 3 langkah, di dalam dapur nampak terdapat sesosok seseorang anak kecil wanita rambut panjang, mengenakan pakaian serba gelap serta nampak banyak bercak darah itu lagi menghadap tembok, sembari bawa boneka beruang tanpa kepala yang saya tau itu merupakan boneka yang membuatku jatuh tadi di tangan kiri, serta menusuk- nusukuk tembok mengenakan pisau dapur memakai tangan kanannya.

“ Sang‘ siapa kalian?” Tanyaku terpatah memberanikan diri.

Kakiku serta tanganku mulai gemetar ketakutan, mataku seakan tidak biasa alihkan pandanganku ke arah anak itu.

“ Kakak, boneka kak, boneka” Anak wanita itu menanggapi sembari memandang ke arahku.

Dengan sekuat tenaga saya berupaya menggerakkan kakiku yang masih gemetaran itu, masuk ke dalam kamar meningkalkan anak itu. Tetapi seakan tidak yakin, anak itu telah terdapat di dalam kamarku berdiri di atas tempat tidurku sembari tersenyum menakutkan, kedua matanya memandang tajam ke arahku.

“ Kak… kak…, boneka!!!” Kembali anak wanita itu menanyakan boneka.

Mulutku telah tidak mampu berkata- kata, air mata mulai keluar dari kedua bola mataku, tanganku coba mencapai daun pintu tetapi nyatanya pintu itu terkunci.

Anak wanita itu mulai mendekat ke arahku, yang dapat saya jalani cumalah terduduk di lantai sembari menangis menatapnya.

“ Kak…, boneka kak…” anak itu menanyakan kembali bonekanya sembari memusatkan mata pisau dapur yang terdapat di tangan kananya ke leherku.

Dinging mulai terasa di sekujur tubuhku, kulihat darah telah membanjiri lantai kamarku serta seketika saja seluruh jadi hitam…..