Perempuan diujung lorong Sering begini, tiap pulang sekolah, saya wajib melewati suatu lorong yang gelap sendirian di ujung jalur Kota Sakurayami. Saya sesungguhnya tidak suka lewat lorong tersebut, tetapi apa boleh buat, langit telah memerah serta matahari sedikit lagi akan menghilang, saya mesti segera sampai di rumah, jika tidak saya dapat kena omel Mama.

“ Hati- hati, ya, Shiro! kata temanku yang jalannya berbeda arah sembari memberi lambaian tangan lembut. Saya tersenyum. Iya.

“ Ugh, gelap sekali,” keluhku pada saat saya tepat berdiri di depan mulut lorong tersebut. Saya berupaya untuk memberanikan diri dengan metode menarik nafas dalam- dalam serta langsung berlari tidak memikirkan apa pun yang terjalin. Isi tasku bercampur jadi satu seperti perutku pada saat makan pedas, suaranya tidak karuan sehingga membuat kebisingan tersendiri di lorong ini. Suara tasku yang berisik memecahkan kesunyian saat ini.

Satu persatu lampu lorong mulai menyala, itu membuatku sedikit lega walaupun cuma satu dua yang nyala dengan terang, serta sisanya cuma menampakkan cahaya remang- remang tidak jelas.“ Huh, mau gimana lagi coba? Lagi pula ini masih belum sangat gelap, bisa jadi saya dapat berjalan dengan santai sejenak,” renungku dalam hati sembari memeluk tas tenteng milikku erat- erat.

Saya bersenandung pelan untuk menghibur diriku sendiri, menyanyikan sebagian lagu Jepang ataupun semata- mata mengangguk- anggukan kepalaku seirama dengan lagu yang berbalik di otak. Langkahku terhenti kala saya memandang sesosok bayangan hitam berdiri di ujung lorong.“ Mau apa ia?” tanyaku dalam hati. Bayangan tersebut kian jelas di pengelihatanku, memperlihatkan sesosok perempuan dengan jubah bercorak gelap sempurna menutup sebagian mukanya. Mulutnya tertutup oleh masker. Tangannya memperlihatkan sederet luka sayat serta pisau karatan di genggamannya.

“ Siapa kau?!” tanyaku sedikit berteriak. Saya? ulangnya dengan nada serak yang aneh. Mau apa kamu?! Hei, jawab pertanyaanku! saya kembali memberikan pertanyaan yang seharusnya tidak perlu saya tanyakan. Saya akan menanggapi pertanyaanmu setelah kau menanggapi pertanyaanku, dia berikan ketentuan.“ Apakah saya nampak menawan?”

“ Hmn,” saya merenung sejenak dalam pikiranku.“ Yah, pasti saja, seluruh perempuan di dunia ini menawan, termasuk kau,” jawabku dengan lantang. Perempuan tersebut tertawa pelan, setelah itu membebaskan masker yang membalut mulutnya sedari tadi.“ Bahkan bila kau memandang diriku semacam ini?” tanyanya lagi.

Oh tidak! Sirna telah, ia merupakan Kuchisake Onna. Legenda hantu perempuan Jepang dengan mulut robek yang begitu lebar, serta saya baru saja menanggapi pertanyaannya. Hendaknya saya mesti segera pergi dari sini serta menyelamatkan nyawaku saat sebelum terjalin suatu yang mengecam diriku.

Sebab tidak kuat memandang wajah perempuan ini, saya menutup mulutku sembari menangis. Lama- lama tetapi tentu, saya melangkahkan kakiku mundur. Betapa terkejutnya saya kala tubuhku terasa semacam membentur seorang. Saya langsung berputar memandang keadaan. Kuchisake Onna! Perempuan itu berteleportasi ke belakang tubuhku.

Saya memilah buat menahan jeritanku. Serta lama- lama menghindari perempuan itu. Apapun yang ditanyakan hantu itu, jangan pernah dijawab! Tetapi… tetapi… gimana ini? Saya telah telanjur menanggapi pertanyaannya tadi. Oh, Tuhan, tolong ampuni seluruh dosaku saat sebelum saya menjemput ajalku sendiri di sini.

“ Ayo, Nak, jawab pertanyaanku,” pintanya. Saya membengkokkan tengkuk.“ Jujur saja, hantu sepertimu harusnya pergi dari dunia ini serta hiduplah tenang di alam akhirat sana!. Siapa yang bakal berkata kau menawan? Manusia- manusia semacam saya tentu bakal berbohong bila bertemu denganmu, bisa jadi termasuk saya. Tetapi, saya bakal jujur, KAU JELEK JIKA SEPERTI ITU! PERGI DARI SINI!”

Apa yang telah saya ucapkan? Bodoh.

“ Apa saya nampak menawan bila seperti ini? tanya perempuan itu lagi.Saya sudah bilang, kamu kurang baik! saya menjerit, memasrahkan semua yang saya miliki. Mataku menangkap jika hantu itu melaju dengan kilat ke arahku serta membuat garis lebar yang sama dengan yang dia miliki di wajahku.

Menangis, cuma itu yang bisa saya lakukan sebelum semua berubah jadi gelap serta dingin.